Pertahankan Surabaya PPKM Level 1

Jumlah kasus aktif virus SARS-CoV-2 sedang meningkat lagi. Hingga Rabu (2/2) sore, berdasar data yang terpantau di laman lawancovid-19.surabaya.go.id, ada 587 kasus. Sebagian besar tengah menjalani isolasi mandiri di Hotel Asrama Haji (HAH).

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menjelaskan, pihaknya kembali mengaktifkan HAH sebagai tempat isolasi terpusat Covid-19. Setiap warga yang diketahui positif terinfeksi diminta segera melakukan isolasi. Tidak boleh berada di rumah untuk menghindari penularan yang lebih luas. "Terlalu berisiko. Rawan terjadi penularan kepada anggota keluarga dan warga sekitar," kata Eri Rabu.

Dia menyatakan, saat ini mayoritas kasus aktif yang muncul berasal dari virus varian Omicron. Secara teori, varian Omicron memiliki daya tular yang tinggi. Virusnya cepat menular. Namun, positifnya, tingkat fatalitas yang mengakibatkan kematian lebih rendah daripada varian Delta. "Penjelasan dari para pakar bahwa varian Omicron ini cepat sembuhnya. Jika tanpa gejala, rata-rata 3 hari sampai 4 hari sudah sembuh," jelas Eri.

Saat ini Pemkot Surabaya terus memperbaiki kualitas pelayanan di HAH. Sebagai tempat isolasi terpusat, HAH terus diperbaiki. Perbaikan dalam gedung dilakukan sejak awal Januari sampai sekarang. Baik di gedung Zam Zam maupun gedung Shofa. "Sampai sekarang, kami perbaiki," ujarnya.

Renovasi lebih banyak dilakukan di luar kamar. Sebab, memang bagian luar mengalami kerusakan. Mulai cat tembok mengelupas hingga plafon jebol. "Tapi, prinsipnya sangat layak untuk ditempati," tutur Eri.

Selain HAH, pemkot menyiapkan alternatif tempat isolasi lain. Yaitu, hotel. Sejauh ini pemkot melalui badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) berkomunikasi dengan sejumlah hotel sebagai tempat isolasi mandiri. Namun, untuk bisa menikmati fasilitas kamar hotel itu, tentu warga dikenai biaya sewa. "Ini bagi warga yang merasa mampu dan sanggup bayar. Ada permintaan sehingga kami siapkan," papar Eri.

Wali kota sangat berharap Surabaya tetap berada di PPKM level 1. Tidak sampai naik ke PPKM level 2 dan seterusnya. Sebab, jika kondisi tersebut terjadi, kata dia, yang paling dirugikan adalah warga Surabaya. Sebab, kegiatan perekonomian masyarakat pasti akan terganggu. Roda perekonomian tidak bisa digerakkan secara maksimal karena ada pembatasan dari pemerintah pusat. "Ayo, kita pertahankan Surabaya di level 1. Prokes dikuatkan lagi," tegasnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, sejumlah kebijakan bakal diterapkan. Salah satunya, meminta semua tempat usaha harus memaksimalkan fungsi aplikasi PeduliLindungi. Tujuannya, mendeteksi kasus aktif. Jangan sampai skrining melalui PeduliLindungi menjadi formalitas semata. Pemkot akan meminta surat pernyataan dari semua tempat usaha untuk mematuhi prokes. "Khususnya memaksimalkan PeduliLindungi. Kalau melanggar, tempat usaha saya tutup seminggu. Sebab, yang rugi kita semua," tandas pejabat 44 tahun tersebut.

End Article