Selama ini, di Indonesia kebanyakan para ibu hamil berpendapat bahwa dengan melahirkan normal, rasa sakit yang dialami hanya pada saat melahirkan saja. Benarkah demikian? Atau hanya mitos saja?
Dalam diskusi kesehatan bertema Enhanced Recovery After Caesarean Surgery (ERACS), baru-baru ini, salah satu tim dokter Anastesi di Siloam Hospitals Ambon Cok Istri Arintha Devi mengatakan, masyarakat menganggap saat operasi caesar pada umumnya sang pasien tidak merasakan sakit. Masyarakat menganggap rasa sakit justru terjadi pascaoperasi.
"Misalnya akan merasa sangat tidak nyaman, nyeri, dan rasa sakit yang tidak tertahankan ketika efek pembiusannya selesai. Nah kini dengan pengembangan metode ERACS diharapkan dapat mengubah stigma masyarakat mengenai sakitnya melahirkan dengan caesar," terang Cok Istri Arintha Devi.
Menurut Coki, sapaan Cok Istri Arintha Devi, keberhasilan suatu proses terkhusunya proses melahirkan dengan metode ERACS adalah hasil kerja sama semua tim dokter. Baik dari tim obsgyn, anastesi, dan tim dokter anak.
Pasien juga diharapkan dapat ikut bekerja sama dengan mengikuti anjuran dan arahan dokter. Tim bidan dan perawat ruangan, lanjut dia, akan selalu siap membantu dan mengarahkan pasien agar proses pemulihannya lebih cepat.
"Karena cepatnya proses pemulihan sang pasien kembali pada seberapa besar kemauan pasien itu sendiri," jelas Cok Istri Arintha Devi.
Mengenal Metode ERACS
Prosedur ERACS (Enhanced Recovery After Caesarean Surgery) merupakan pengembangan dari konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) yang awalnya digunakan pada operasi bedah digestif atau operasi bedah umum. Metode ERACS sudah dapat dilakukan sejak lama, tetapi baru kembali booming pada masa pandemi. Sebab, pasien mengharapkan lebih cepat pulang dibandingkan menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit karena khawatir terpapar atau terinfeksi virus.
"Metode ERACS ini proses recovery lebih cepat, painless atau rasa nyeri yang sangat sedikit, mobilisasi pasien lebih cepat dan lebih baik, pasien dapat lebih cepat pulang dan berkumpul dengan keluarga," kata spesialis anastesi Ida Bagus Gita Dharwa Wibawa.
Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Maluku Markus Daniel Taliak menyatakan, persiapan melahirkan caesar dengan metode ERACS terdapat beberapa perbedaan dengan metode konvensional. Perbedaan itu bisa ditemukan sejak proses persiapan operasi.
Pada metode konvensional, menurut dia, pasien diharuskan puasa makan 8 jam sebelum operasi. Sedangkan pada metode ERACS 8 jam sebelum operasi pasien masih dapat makan dengan bebas, 6 jam sebelum operasi masih dapat mengonsumsi makanan ringan, bahkan 2 jam sebelum operasi pasien diarahkan untuk mengonsumsi cairan berkalori, seperti air gula.
"Dengan harapan sang pasien memiliki energi optimal dan mengurangi rasa stress. Hal ini bertujuan untuk membantu proses pemulihan pasien pascaoperasi," ujar Markus.
Sementara itu, salah satu tim dokter Obgyn Erwin Rahakbauw menjelaskan, perbedaan signifikan antara metode ERACS dan konvensional ada pada teknik operasi. Metode ERACS tidak mengeluarkan rahim dari rongga perut dalam proses operasinya sehingga tidak mengakibatkan penarikan saraf-saraf yang dapat menyebabkan rasa mual setelah operasi.
Pada teknik ERACS, lanjt Erwin, dokter menghindari proses pencucian rahim. Sedangkan dari teknik pembiusan dengan memberikan pembiusan seminimal mungkin untuk memberikan rasa nyaman pada pasien.
Tujuan akhir dari proses penyembuhan ERACS adalah 8 jam setelah operasi pasien sudah dapat bergerak dan kurang dari 24 jam pasien sudah dapat berjalan. Keesokan harinya, pasien sudah dapat segera kembali ke rumah.
