Di RS Husada Utama, 39 Pasien Covid-19 Dirawat, Mayoritas Anak-Anak

Jumlah pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit terus meningkat. Di Rumah Sakit Husada Utama (RSHU) Surabaya, misalnya. Saat ini, total pasien Covid-19 yang dirawat inap mencapai 39 kasus. Mayoritas pasien yang dirawat adalah anak-anak.

Direktur RSHU dr Didi D. Dewanto SpOG (K) menyatakan, peningkatan jumlah pasien Covid-19 di RSHU terjadi sejak seminggu lalu. Hampir setiap hari ada pasien yang datang untuk dirawat inap. "Kondisinya ringan dan sedang," katanya kepada Jawa Pos kemarin (2/2).

Didi menyampaikan, seluruh pasien yang dirawat di ruang isolasi RSHU terpapar varian Omicron. Rata-rata pasien anak-anak adalah pelajar. Ada juga satu keluarga yang dirawat. "Ini sekaligus menjadi peringatan terkait dengan pelaksanaan PTM (pembelajaran tatap muka, Red) yang harus dievaluasi," ujarnya.

Didi memprediksi kasus Covid-19 varian Omicron terus naik di Surabaya. Termasuk jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit. Pemerintah pun sudah memperkirakan kasus melonjak hingga akhir Februari. "Hampir seluruh rumah sakit di Surabaya juga mulai merawat banyak pasien Covid-19," jelas ketua Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) Surabaya tersebut.

Saat ini RSHU juga sudah mempersiapkan diri untuk mengantisipasi lonjakan kasus Covid-19. Total, ada lebih dari 200 bed yang sudah disiapkan. Termasuk ruang intensive care unit (ICU) yang dilengkapi ventilator dan high care unit (HCU). "Antisipasi sudah kami lakukan sejak satu bulan lalu," ungkap Didi.

Meski terjadi lonjakan kasus Omicron di Surabaya, lanjut dia, tenaga kesehatan (nakes) di rumah sakit bisa mengatasinya dengan baik. Sebab, pasien Omicron biasanya hanya mengalami gejala klinis batuk dan nyeri tenggorokan. "Tidak seperti varian Delta, hampir semua pasien yang datang membutuhkan bantuan ventilator," jelas dia.

Didi menjelaskan, kasus Omicron memiliki tingkat keparahan cukup rendah. Namun, virus tersebut sangat berisiko tinggi jika menjangkiti orang yang memiliki komorbid atau belum mendapat vaksin lengkap.

"Gejalanya kan batuk dan nyeri tenggorokan. Jarang ada demam. Jadi, masyarakat yang mengalami gejala itu sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter," tuturnya.

End Article